Kamis, 21 April 2011

Celah 7-12mm pada furniture

Terdapat suatu proses pengecekan pada produk furniture kayu terutama untuk kursi dan meja sebelum produk tersebut diproduksi dan dipasarkan. Beberapa negara pengimpor furniture (terutama Eropa) menggunakan sebuah standar Internasional dengan kode EN 581. Standar ini terdapat beberapa 'pasal' dengan spesifikasi yang berbeda.

Pasal 1 misalnya memberikan aturan tentang standar keselamatan konsumen secara umum. Artinya sebuah guideline bagi produsen, desainer hingga para teknisi di ruang produksi untuk memperhatikan hasil produk dengan memikirkan detail-detail misalnya celah antara 2 batang kayu, ataupun 'lubang' yang terbentuk karena desain dan konstruksi.

Sharp Edges
Aturan ini memberitahukan bahwa setiap sudut furniture kayu yang kita buat harus 'bersih' dari sudut-sudut tajam yang berpotensi untuk melukai jari-jari tangan maupun bagian yang lain pada saat produk tersebut digunakan. Misalnya sudut meja makan perlu diamplas sedikit atau dibuat 'rounded' agar tidak terlalu tajam.
Pembeli akan sangat peduli terhadap detail seperti saat mereka membeli furniture buat anak-anak mereka yang mana kulit anak-anak lebih sensitif terhadap goresan.

Celah 7-12mm
Bayangkan terdapat dua batang kayu pada kursi anda yang terletak sejajar, celah di antara 2 batang kayu tersebut yang harus memperhatikan aturan ini. Mempertimbangkan ukuran jari manusia dewasa baik Asia ataupun Eropa, celah tersebut TIDAK BOLEH berjarak 7-12mm. Akan lebih baik lebih lebar sehingga jari manusia yang masuk celah tersebut tidak akan terjepit. Atau lebih baik kurang dari 7mm agar tidak ada kemungkinan bagi jari manusia masuk dan terjepit di dalam celah tersebut.

Posisi Berpotensi
Beberapa detail produk yang memiliki potensi masalah ini misalnya:
- Lubang bor untuk sekrup yang kepala sekrupnya masuk ke dalam kayu
- Celah antar ruji-ruji kayu pada jendela krepyak, kursi outdoor, top meja dan lainnya.
- Celah pada pintu dengan dinding samping kabinet
- Jarak antara ambalan meja dengan top table meja

Di Indonesia (red:konsumen Indonesia) rata-rata masih belum memperhatikan detail tersebut karena masih lemahnya perlindungan konsumen di sini. Konsumen lebih memfokuskan pada harga dan kualitas estetika sebuah produk furniture. Bagi kita pelaku industri furniture ekspor, pengetahuan akan hal ini akan sangat dihargai oleh buyer dan akan memberikan nilai tambah bagi seluruh tim produksi dan perencanaan.

Manfaat lainnya adalah untuk pengetahuan dan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Akan ada baiknya jika kita perhatikan sedikit lebih detail tentang aspek keselamatan pada seluruh produk furniture yang ada di rumah.





sumber: http://www.tentangkayu.com/2009/04/celah-7-12mm-apa-artinya.html

Rabu, 23 Maret 2011

Papan Kayu

Ada beberapa macam tipe papan kayu

1. Solid ( kayu utuh )
Kayu utuh yang tidak dibentuk dari sambungan atau gabungan, kayu solid yang cukup populer di Indonesia adalah; kayu jati, sungkai, nyatoh, ramin, dan jati belanda,dll
Harga kayu solid dihitung berdasarkan kubikasi, panjang x lebar x tebal, yang umumnya harga kayu solid cenderung lebih mahal.

2. Layered ( plywood: multiplex, triplex, dll )
Kayu lapis yang biasa disebut tripleks atau multipleks, sesuai dengan namanya kayu lapis terbentuk dari beberapa lapis lembaran kayu. Lembaran-lembaran tersebut direkatkan dengan tekanan tinggi dan menggunakan perekat khusus. Kayu lapis yang terdiri dari tiga lembar kayu disebut tripleks. Sedangkan yang terdiri dari lebih dari tiga lembar kayu, disebut multipleks.
Ketebalan kayu lapis bervariasi, mulai dari 3mm, 4mm, 9mm, dan 18mm dengan ukuran penampang standart yaitu 120cm x 240cm. Kayu lapis bisa digunakan sebagai material untuk kitchen set, tempat tidur, lemari, atau meja.

Plywood memiliki banyak pilihan motif, yang kerap digunakan sebagai pelapis lemari ataupun kitchen set, seperti ; motif jati, sungkai, nyatoh, dll, yang masing-masing motif mempunyai ciri khas dan warna tersendiri, umumnya plywood yang dilapisi oleh lapisan bermotif ini difinishing dengan cara plitur/ NC dan melamik.

Selain itu ada juga melaminto, yaitu kayu lapis dengan lapisan anti air yang umumnya dipasang pada bagian dalam kitchen set ataupun untuk bagian dalam pintu kamar mandi. Ada beberapa pilihan warna pada melaminto.

3. Partikel board
Jenis kayu olahan yang satu ini terbuat dari serbuk kayu kasar yang dicampur dengan bahan kimia khusus, campuran tersebut kemudian disatukan dengan lem dan dikeringkan dengan suhu tinggi.

Kayu partikel banyak digunakan sebagai material untuk berbagai furnitur. Namun, kayu partikel tergolong jenis kayu yang tidak tahan lama. Dalam kurun waktu tertentu, kayu partikel bisa berubah bentuk, terutama jika terkena air dan menahan beban terlalu berat.

4. MDF/ ( Medium Density Fiberboard )
Kayu yang terbuat dari campuran bubur kayu dengan bahan kimia tertentu, cara pembuatannya mirip dengan kayu partikel. Kayu MDF merupakan material kayu olahan yang tidak tahan terhadap air dan kelembapan. Untuk daerah-daerah yang memiliki kelembapan tinggi, sebaiknya tidak menggunakan kayu MDF.

Finishing kayu MDF bisa dilakukan dengan lapisan irisan kayu tipis ( veneer ), pelapis kertas ( tacon, supercon,dll ), melamik ataupun duco. Keunggulan dari MDF adalah permukaannya yang halus dan tidak berpori membuat proses finishing jauh lebih praktis dibandingkan proses finishing pada jenis kayu lainnya, namun ada juga kelemahannya yaitu harga yang relatif lebih mahal.

5. Blockboard
Balok-balok kayu berukuran 4cm-5cm dipadatkan menggunakan mesin, setelah itu diberi pelapis, sehingga hasil akhirnya berupa lembaran seperti papan kayu. Blockboard memiliki dua pilihan ketebalan, 15mm dan 18mm, harganya pun cenderung lebih murah dibandingkan kayu solid.

Untuk menilai kualitas kayu ada 3 faktor penentu.
1. Berat Jenis -> menentukan berat/ ringan bahan
2. Structural Strength -> menentukan kekuatan bahan dari segi struktur
3. Water Resistance Level -> menentukan ketahanan bahan terhadap air

Jenis board apa yang ringan dan kuat ?
Jika board yang dimaksud terbuat dari kayu utuh, perlu melihat tabel bahan kayu, karena 'kuat' ada 2 macam, kuat secara struktur, dan kemudian kuat tahan air.

Banyak cara untuk menambah kekuatan aggregate, antara lain memasukkan bahan kimia tambahan ke dalam campuran aggregate, dengan demikian bahan tsb akan mampu tahan air sehingga bisa dipakai di luar ruangan (exterior)

Board yang sering digunakan di industri mebel di indonesia yaitu teak-block, yang sesungguhnya adalah multipleks di mana lapisan terluarnya adalah kayu jati, namun di bagian dalam adalah kayu lunak. Treatment ini akan menambah nilai kayu tersebut, karena pola kayu yang di-'jual'. adalah kayu jati.

Teknologi yang ada saat ini, telah memungkinkan lapisan kayu untuk direkatkan pada bahan yang ringan, seperti aluminium dan juga PVC. Sehingga penampilannya tetap kayu, tetapi ringan.